PONTIANAK - Ekspor Kalimantan Barat pada Oktober 2011 mengalami peningkatan yang besar. Pengiriman barang ke luar negeri hampir 80 persen besarnya dibanding September 2011 dari USD148,33 juta naik menjadi USD266,71 juta. Malahan, kalau dibandingkan tahun ke tahun, pada periode Januari-Oktober tahun ini ekspor Kalbar naik sebesar 108,82 persen dibandingkan dengan periode Januari- Oktober 2010. Hal ini diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik Kalbar Yomin Tofri.Menurut dia, komoditi ekspor masih didominasi perhiasan/permata, karet dan barang dari karet, biji kerak dan abu logam, serta kayu dan barang dari kayu. Keempat golongan ini menyumbang sebesar 97,39 persen dari total nilai ekspor.
“Dari keempat komoditi tersebut pada bulan Oktober 2011, biji kerak dan abu logam mengalami penurunan sebesar 17,31 persen dibanding bulan September 2011, sedangkan tiga komoditi lainnya mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan September 2011 yaitu masing-masing perhiasan/permata naik sebesar 4.608,42 persen, karet dan barang dari karet naik sebesar 17,31 persen serta Kayu dan barang dari kayu naik sebesar 45,46 persen,” papar Yomin.
Sementara untuk negara tujuan ekspor, negara-negara Asia mulia menunjukan geliatnya. Kontribusi negara-negara Asia mencapai 90 persen dalam menampung ekspor kita Buktinya; Singapura, China dan Jepang menjadi tiga negara tujuan ekspor Kalbar terbesar pada bulan Oktober 2011, yaitu masing-masing sebesar USD98,91 juta, USD80,42 juta dan USD34,52 juta dengan kontribusi sebesar 80,18 persen. Sama dengan ekspor, impor Kalimantan Barat pada bulan Oktober 2011 juga mengalami peningkatan sebesar 125,12 persen dibanding bulan September 2011,dari USD22,14 juta menjadi USD49,85 juta. Pada periode Januari-Oktober 2011 Impor mengalami peningkatan sebesar 57,17 persen jika dibandingkan dengan periode Januari- Oktober 2010.
Tiga golongan barang penyumbang impor terbesar Kalimantan Barat pada bulan Oktober 2011 yaitu kapal laut menyumbang sebesar 42,12 persen, bahan bakar menyumbang sebesar 29,94 persen serta mesin-mesin/pesawat mekanik menyumbang sebesar 16,49 persen. Total nilai impor ketiga golongan barang tersebut sebesar 88,55 persen atau menyumbang USD44,14 juta. Golongan barang lainnya penyumbang impor terbesar adalah benda-benda dari besi dan baja, besi dan baja dan pupuk dengan total nilai impor sebesar USD4,01 atau sebesar 8,05 persen.
Sebagian besar impor Kalimantan Barat berasal dari Asia yaitu sebesar USD48,29 juta atau sekitar 96,88 persen, sisanya dari Kanada sebesar 1,32 persen, Amerika Serikat sebesar 1,05 persen, Mesir 0,25 persen, Perancis 0,15 persen, serta 0,36 persen berasal dari negara lainnya. China, Singapura dan Malaysia merupakan tiga negara pemasok terbesar impor Kalimantan Barat bulan Oktoberi 2011 yaitu sebesar US$ 46,15 Juta atau 92,58 persen dari keseluruhan impor Kalimantan Barat. Selain ketiga negara di atas, negara utama pemasok impor juga berasal dari Jepang, Kanada dan Amerika Serikat memberikan andil impor dengan total impor sebesar 6,44 persen.
Neraca perdagangan luar negeri Kalimantan Barat pada bulan Oktober 2011 juga mengalami peningkatan sebesar 71,86 persen dibanding bulan September 2011. Periode Januari-Oktober tahun 2011 neraca perdagangan mengalami peningkatan sebesar 122,09 persen dibanding dengan periode yang sama tahun 2010. (ars)
Selasa, 06 Desember 2011
Minggu, 16 Oktober 2011
Nilai Ekspor Naik, Impor Turun
Nilai ekspor Indonesia pada bulan Agustus 2011 mencapai 18,81 miliar dollar AS atau mengalami peningkatan tipis 8,00 persen dibanding kinerja ekspor Juli 2011. Akan tetapi, bila dibanding dengan kinerja bulan Agustus 2010, ekspor mengalami peningkatan sebesar 37,05 persen.
Sementara nilai impor bulan Agustus justru mengalami penurunan tipis, walaupun masih positif jika dibandingkan Agustus 2010 dengan peningkatan 23,68 persen. Selama Januari-Agustus 2011, China masih tetap mengukuhkan diri sebagai negara sumber impor terbesar bagi Indonesia.
Kinerja hasil perdagangan internasional (ekspor-impor) Indonesia itu diumumkan Badan Pusat Statistik, Senin (3/10/2011) di Jakarta.
Jika dirinci, ekspor nonmigas Agustus 2011 mencapai 14,72 miliar dollar AS, naik 8,12 persen dibanding Juli 2011, sedangkan dibanding ekspor Agustus 2010 meningkat 25,47 persen.
Dengan kinerja itu, maka secara kumulatif nilai ekspor Indonesia periode Januari-Agustus 2011 mencapai 134,85 miliar dollar AS atau meningkat 36,58 persen dibanding periode yang sama tahun 2010. Total ekspor nonmigas periode delapan bulan itu mencapai 107,37 miliar dollar AS atau meningkat 31,43 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Agustus 2011 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar 1,33 miliar dollar AS, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar 212 juta dollar AS.
Ekspor nonmigas ke Cina Agustus 2011 mencapai angka terbesar yaitu 1,92 miliar dollar AS, disusul Jepang 1,53 miliar dollar dan India 1,39 miliar dollar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 32,89 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar 2,06 miliar dollar AS.
Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-Agustus 2011 naik sebesar 33,60 persen dibanding periode yang sama tahun 2010, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 5,79 persen serta ekspor hasil tambang dan lainnya naik 28,49 persen. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada periode Januari-Juni 2011 berasal dari
Kalimantan Timur dengan nilai 17,96 miliar dollar (18,22 persen), diikuti Jawa Barat 13,05 miliar dollar (13,24 persen) dan Riau 10,23 miliar dollar (10,37 persen).
Impor melemah Nilai impor Indonesia Agustus 2011 sebesar 15,05 miliar atau turun 7,12 persen dibanding impor Juli 2011 yang besarnya 16,21 miliar, sedangkan jika dibanding impor Agustus 2010 senilai 12,17 miliar dollar, mengalami peningkatan 23,68 persen. Dengan kinerja itu, selama periode Januari-Agustus 2011, nilai impor mencapai 114,84 miliar dollar atau meningkat 30,90 persen jika dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya (87,73 miliar dollar AS).
Impor nonmigas Agustus 2011 sebesar 11,25 miliar dollar atau turun 1,16 miliar dollar (9,37 persen) dibanding impor nonmigas Juli 2011 senilai 12,41 miliar dollar, sedangkan impor nonmigas selama Januari-Agustus 2011 mencapai 87,99 miliar dollar atau naik 25,18 persen dibanding impor nonmigas periode yang sama tahun 2010 (70,30 miliar dollar).
Impor migas Agustus 2011 sebesar 3,81 miliar dollar atau naik 0,01 miliar dollar (0,24 persen) dibanding impor migas Juli 2011, sedangkan impor migas selama Januari-Agustus 2011 mencapai 26,85 miliar dollar atau naik 53,96 persen dibanding impor migas periode yang sama tahun sebelumnya (17,44 miliar dollar).
Nilai impor nonmigas terbesar Agustus 2011 adalah golongan barang mesin dan peralatan mekanik dengan nilai 2,09 miliar, turun 2,79 persen dibanding impor golongan
barang yang sama Juli 2011. Sementara itu, impor golongan barang tersebut selama Januari-Agustus 2011 mencapai 15,37 miliar dollar atau meningkat 18,78 persen dibanding impor golongan barang yang sama tahun sebelumnya (12,94 miliar dollar).
Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Agustus 2011 masih ditempati oleh Cina senilai 16,37 miliar dollar dengan pangsa 18,61 persen, diikuti Jepang 12,10 miliar dollar (13,75 persen) dan Singapura 7,07 miliar dollar (8,04 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,30 persen, sementara dari Uni Eropa sebesar 7,80 persen.
Nilai impor semua golongan penggunaan barang selama Januari-Agustus 2011 dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing meningkat, yaitu impor barang konsumsi sebesar 34,78 persen, bahan baku/penolong sebesar 34,88 persen, dan barang modal sebesar 14,85 persen.
Dari Usaha Keluarga, Batik Kayu Ekspor Raup Puluhan Juta Rupiah
GARA-GARA sering mengikuti pameran kerajinan, jalan hidup Indah Rahayu Indra berubah dari pengusaha kain batik keluarga menjadi eksportir batik kayu (wooden batik). Omzetnya pun kini puluhan juta rupiah setiap bulannya.
Dalam satu dekade terakhir, industri kerajinan di Tanah Air makin menggeliat. Hal ini terlihat dari frekuensi penyelenggaraan pameran produk kerajinan yang terus meningkat setiap tahun. Ajang pameran berskala nasional seperti Inacraft dan Kridaya menjadi daya tarik tersendiri yang menggambarkan miniatur produk kerajinan tangan dari seluruh penjuru Nusantara.
Ragam produknya pun kian kreatif dan inovatif. Nah, jika ada pengusaha kecil yang memetik manfaat dari pameran, Indah Rahayu Indra-lah salah satunya. Pertemuan dengan buyer pada sebuah pameran kerajinan tahun 1999 telah menjadi titik tolak menuju pengembangan usaha kerajinan batik bermerek "Rizki Ayu" yang dirintisnya di Kota Gudeg sejak 1995.
Dari situ pula, wanita asli Yogyakarta ini mulai berkenalan dengan dunia ekspor-impor. Dalam pameran kerajinan yang digelar di Jakarta itu, stan "Rizki Ayu” didominasi produk kain-kain batik. Sebagai pemanis, Indah juga memajang sebuah topeng kayu bermotif batik karya dari rekannya sesama wirausaha batik.
Tak disangka, keberadaan topeng batik itu menarik perhatian seorang buyer yang mampir di stannya. Nasib baik pun menghampiri Indah manakala sang buyer menantangnya untuk menyediakan produk batik kayu dalam jumlah banyak untuk keperluan ekspor ke Amerika, tepatnya ke California dan Louisiana.
"Untuk ekspor itu kan dalam sekali kirim minimal harus ada satu kontainer. Akhirnya, saya berkolaborasi bersama tiga perajin lainnya sepakat menerima order itu," kenang ibu dua anak ini. Tak hanya dalam bentuk topeng batik, sang buyer juga meminta variasi produk kayu bermotif batik yang lebih fungsional seperti nampan dan mangkuk kayu bermotif batik.
Maka, pada tahun 2000, Indah dan beberapa karyawannya yang semula hanya memproduksi batik kain mulai berinovasi mengguratkan motif batik pada media kayu yang telah dibentuk menjadi perkakas rumah tangga. "Saya tidak meniru, tapi justru tuntutan pasar yang mengajak saya menekuni batik kayu," ucap alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia itu.
Kendati bukan pemain pertama di bidang batik kayu, di kota kelahirannya Indah termasuk jajaran pionir pengembangan batik kayu untuk keperluan fungsional (nondekoratif). Beberapa produknya adalah piring, mangkuk, nampan, tatakan gelas, cermin genggam, dan tempat tisu.
Semuanya terbuat dari kayu yang diberi motif batik yang kental dengan warna natural dan tradisional. "Motifnya Yogya kombinasi. Dari motif asli batik seperti kawung, lereng, lurik, ceplok, kami kombinasikan misalnya dengan motif bunga," tuturnya.
Demi keamanan konsumen, sang buyer juga mengajari cara finishing produk dengan media nontoksik sesuai dengan standar internasional.Pasar ekspor pun kian berkembang ke beberapa negara seperti Jerman dan Spanyol. Kapasitas produksi bisa mencapai 1.500 keping setiap bulannya.
Tak disangka, usaha batik Rizki Ayu yang didirikan dengan modal awal Rp5 juta itu kini mampu meraih omzet lebih dari Rp50 juta per bulan. ”Produk batik kayu milik saya sekarang lebih banyak diekspor. Komposisinya 60 persen untuk ekspor, 40 persen lokal," jelas wanita yang menjabat sebagai wakil ketua I Dekranas Provinsi DIY itu.
Untuk memenuhi kuota ekspor, Indah bekerja sama dengan 100 perajin batik asli yang tersebar di Yogyakarta dan Klaten. Caranya melalui kemitraan yang digalang oleh para karyawannya yang kini berjumlah 30 orang.
Beberapa karyawan ditunjuk sebagai penanggung jawab yang mengoordinasikan satu kelompok pembatik yang terdiri atas 20 orang. Setiap item produk dijual dengan harga mulai Rp5.000 sampai yang termahal Rp1 juta.
Menurut Indah, saat ini di Yogyakarta juga terdapat ratusan perajin kayu, beberapa di antaranya memiliki produk yang hampir sama dengan milik Indah. Kendati sempat sakit hati, Indah mengaku tetap optimistis, bahkan bangga karena motif batik kayu hasil karyanya lebih dari 10 tahun silam itu sekarang dijadikan tolok ukur dan menginspirasi banyak perajin.
"Yang penting saya berkomitmen untuk terus berkreasi dan menjaga kualitas produk, " tandasnya. Indah menuturkan, untuk menjaga mutu, pembuatan produk batik kayu Rizki Ayu dilakukan melalui delapan tahapan.
Mulai dari pembuatan sketsa manual di media kayu, pembatikan, perebusan, pemberian granit, pewarnaan, perebusan kembali hingga diakhiri dengan proses finishing menggunakan bahan yang ramah lingkungan dan aman (tidak menggandung racun) yang diaplikasikan dengan tiga kali proses.
Semua proses menghasilkan produk yang bertekstur amat halus saat dipegang seperti diselimuti kain batik. Tak seperti produk sejenis di pasaran yang bertekstur kasar saat diraba.
Generasi Penerus Batik
Indah Rahayu Indra bukan pemain baru dalam dunia perbatikan. Terlahir di Yogyakarta dari keluarga besar pengusaha kain batik, sejak kecil Indah sudah familier dengan proses membatik.
"Eyang saya punya usaha kain batik, lalu menurun ke ibu saya, pakdhe, dan sepupu-sepupu saya. Tapi, baru saya di keluarga yang mengembangkan batik kayu," ujarnya. Indah menuturkan, semasa kuliah di Universitas Islam Indonesia, ia sudah menjadi tenaga marketing kecil-kecilan dari usaha kain batik milik keluarganya.
Dua tahun setelah lulus, tepatnya pada 1995, barulah ia merintis usaha kain batik sendiri dengan nama "Rizki Ayu" yang diambil dari nama depan putrinya. Lantaran dinilai lebih menjanjikan dan belum banyak pesaing, mulai 2002 secara perlahan bisnis batik kain digantikan dengan batik kayu untuk keperluan fungsional hingga sekarang.
"Untuk batik kain, saya hanya bikin kalau ada pesanan saja," ucapnya. Kendati bukan pemain pertama di jagat batik kayu,Indah yang sejak kecil sudah memahami dunia perbatikan otomatis cepat menyesuaikan diri. Ia juga tak terpengaruh dengan aksi para kompetitornya yang menekan harga demi meraup keuntungan besar tanpa mempertimbangkan mutu produk.
"Banyak perajin yang menjual produk dengan harga murah dan mereka tidak mengerti art. Padahal, batik adalah produk budaya, harus mempunyai sentuhan art," tandasnya.(inda susanti/koran SI)(Koran SI/Koran SI/and)
Dalam satu dekade terakhir, industri kerajinan di Tanah Air makin menggeliat. Hal ini terlihat dari frekuensi penyelenggaraan pameran produk kerajinan yang terus meningkat setiap tahun. Ajang pameran berskala nasional seperti Inacraft dan Kridaya menjadi daya tarik tersendiri yang menggambarkan miniatur produk kerajinan tangan dari seluruh penjuru Nusantara.
Ragam produknya pun kian kreatif dan inovatif. Nah, jika ada pengusaha kecil yang memetik manfaat dari pameran, Indah Rahayu Indra-lah salah satunya. Pertemuan dengan buyer pada sebuah pameran kerajinan tahun 1999 telah menjadi titik tolak menuju pengembangan usaha kerajinan batik bermerek "Rizki Ayu" yang dirintisnya di Kota Gudeg sejak 1995.
Dari situ pula, wanita asli Yogyakarta ini mulai berkenalan dengan dunia ekspor-impor. Dalam pameran kerajinan yang digelar di Jakarta itu, stan "Rizki Ayu” didominasi produk kain-kain batik. Sebagai pemanis, Indah juga memajang sebuah topeng kayu bermotif batik karya dari rekannya sesama wirausaha batik.
Tak disangka, keberadaan topeng batik itu menarik perhatian seorang buyer yang mampir di stannya. Nasib baik pun menghampiri Indah manakala sang buyer menantangnya untuk menyediakan produk batik kayu dalam jumlah banyak untuk keperluan ekspor ke Amerika, tepatnya ke California dan Louisiana.
"Untuk ekspor itu kan dalam sekali kirim minimal harus ada satu kontainer. Akhirnya, saya berkolaborasi bersama tiga perajin lainnya sepakat menerima order itu," kenang ibu dua anak ini. Tak hanya dalam bentuk topeng batik, sang buyer juga meminta variasi produk kayu bermotif batik yang lebih fungsional seperti nampan dan mangkuk kayu bermotif batik.
Maka, pada tahun 2000, Indah dan beberapa karyawannya yang semula hanya memproduksi batik kain mulai berinovasi mengguratkan motif batik pada media kayu yang telah dibentuk menjadi perkakas rumah tangga. "Saya tidak meniru, tapi justru tuntutan pasar yang mengajak saya menekuni batik kayu," ucap alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia itu.
Kendati bukan pemain pertama di bidang batik kayu, di kota kelahirannya Indah termasuk jajaran pionir pengembangan batik kayu untuk keperluan fungsional (nondekoratif). Beberapa produknya adalah piring, mangkuk, nampan, tatakan gelas, cermin genggam, dan tempat tisu.
Semuanya terbuat dari kayu yang diberi motif batik yang kental dengan warna natural dan tradisional. "Motifnya Yogya kombinasi. Dari motif asli batik seperti kawung, lereng, lurik, ceplok, kami kombinasikan misalnya dengan motif bunga," tuturnya.
Demi keamanan konsumen, sang buyer juga mengajari cara finishing produk dengan media nontoksik sesuai dengan standar internasional.Pasar ekspor pun kian berkembang ke beberapa negara seperti Jerman dan Spanyol. Kapasitas produksi bisa mencapai 1.500 keping setiap bulannya.
Tak disangka, usaha batik Rizki Ayu yang didirikan dengan modal awal Rp5 juta itu kini mampu meraih omzet lebih dari Rp50 juta per bulan. ”Produk batik kayu milik saya sekarang lebih banyak diekspor. Komposisinya 60 persen untuk ekspor, 40 persen lokal," jelas wanita yang menjabat sebagai wakil ketua I Dekranas Provinsi DIY itu.
Untuk memenuhi kuota ekspor, Indah bekerja sama dengan 100 perajin batik asli yang tersebar di Yogyakarta dan Klaten. Caranya melalui kemitraan yang digalang oleh para karyawannya yang kini berjumlah 30 orang.
Beberapa karyawan ditunjuk sebagai penanggung jawab yang mengoordinasikan satu kelompok pembatik yang terdiri atas 20 orang. Setiap item produk dijual dengan harga mulai Rp5.000 sampai yang termahal Rp1 juta.
Menurut Indah, saat ini di Yogyakarta juga terdapat ratusan perajin kayu, beberapa di antaranya memiliki produk yang hampir sama dengan milik Indah. Kendati sempat sakit hati, Indah mengaku tetap optimistis, bahkan bangga karena motif batik kayu hasil karyanya lebih dari 10 tahun silam itu sekarang dijadikan tolok ukur dan menginspirasi banyak perajin.
"Yang penting saya berkomitmen untuk terus berkreasi dan menjaga kualitas produk, " tandasnya. Indah menuturkan, untuk menjaga mutu, pembuatan produk batik kayu Rizki Ayu dilakukan melalui delapan tahapan.
Mulai dari pembuatan sketsa manual di media kayu, pembatikan, perebusan, pemberian granit, pewarnaan, perebusan kembali hingga diakhiri dengan proses finishing menggunakan bahan yang ramah lingkungan dan aman (tidak menggandung racun) yang diaplikasikan dengan tiga kali proses.
Semua proses menghasilkan produk yang bertekstur amat halus saat dipegang seperti diselimuti kain batik. Tak seperti produk sejenis di pasaran yang bertekstur kasar saat diraba.
Generasi Penerus Batik
Indah Rahayu Indra bukan pemain baru dalam dunia perbatikan. Terlahir di Yogyakarta dari keluarga besar pengusaha kain batik, sejak kecil Indah sudah familier dengan proses membatik.
"Eyang saya punya usaha kain batik, lalu menurun ke ibu saya, pakdhe, dan sepupu-sepupu saya. Tapi, baru saya di keluarga yang mengembangkan batik kayu," ujarnya. Indah menuturkan, semasa kuliah di Universitas Islam Indonesia, ia sudah menjadi tenaga marketing kecil-kecilan dari usaha kain batik milik keluarganya.
Dua tahun setelah lulus, tepatnya pada 1995, barulah ia merintis usaha kain batik sendiri dengan nama "Rizki Ayu" yang diambil dari nama depan putrinya. Lantaran dinilai lebih menjanjikan dan belum banyak pesaing, mulai 2002 secara perlahan bisnis batik kain digantikan dengan batik kayu untuk keperluan fungsional hingga sekarang.
"Untuk batik kain, saya hanya bikin kalau ada pesanan saja," ucapnya. Kendati bukan pemain pertama di jagat batik kayu,Indah yang sejak kecil sudah memahami dunia perbatikan otomatis cepat menyesuaikan diri. Ia juga tak terpengaruh dengan aksi para kompetitornya yang menekan harga demi meraup keuntungan besar tanpa mempertimbangkan mutu produk.
"Banyak perajin yang menjual produk dengan harga murah dan mereka tidak mengerti art. Padahal, batik adalah produk budaya, harus mempunyai sentuhan art," tandasnya.(inda susanti/koran SI)(Koran SI/Koran SI/and)
EKSPOR-IMPOR SUMBAR TURUN
Nilai ekspor Sumbar pada Mei 2009 Sebesar 100,134,2 ribu dolar amerika, mengalami penurunan sebesar 3,24 persen di banding ekspor april 2009,Secara kumulatif nilai ekspor sumbar januari - Mei 2009 mencapai 453,729,3 dolar Amerika,turun sebesar 60,9 persen di banding periode yang sama pada tahun 2008 Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar,Muchin Ayub di kantornya,selasa (21/7) mengatakan,barang ekspor paling besar.golongan lemak dan minyak hewan/nabati sebesar 72,6276,5 ribu dolar Amerika,lalu,di ikuti golongan barang dan karet sebesar 16,964 ribu dolar Amerika, Negara tujuan Ekspor non migas Mei 2009 Terbesar adalah ke india 49,612,9 ribu dolar Amerika. Di susul ke singapur sebesar 18.272,1 ribu dolar Amerika dan ke negara cina sebesar 10.312,8 ribu dolar Amerika, Secara komulatif ekspor Sumbar Januari-Mei 2009 terbanyak ke india sebesar 42,26 persen disusul ke Cina 18,29 Persen dan singapur sebesar 15,11 persen. Pelabuhan muat terbesar ekspor Sumbar adalah Teluk Bayur,Selama perode Januari-mei 2009 telah mampu mengekspor sebesar 453,729,3 ribu Dolar Amerika,Sedangkan dari Bandara Internasional MInangkabau(BIM) Tidak ada sama sekali, Nilai impor Sumbar Bulan Mei 2009 mencapai 1,494,6 ribu dolar Amerika atau pengalami penurunan sebesar 17,40 persen di banding impor april sebesar 1,809,4 ribudolar Amerika.secara kumulatif nilai impor Sumbar Januari-Mei 2009 Mencapai 13,364,9 ribu dolar Amerika atau turun dibanding Periode yang sama tahun 2008, Golongan barang impor paling besar golongan kertas dan karton sebesar 703,1 ribu dolar Amerika, Di ikuti Oleh golongan mesin-mesin pesawat mekanik sebesar 378,6 ribu Dolar Amerika dan golongan benda-benda dari besi dan baja sebesar 196,1 ribu Dolar Amerika, Negara Pemasok impor terbesar dari Swedia sebesar 703,1 ribu dolar Amerika disusul dari Cina sebesar 412,7 ribu dan negara Belarus sebesar 164,5 ribu Dolar Amerika,
Langganan:
Komentar (Atom)